furniture jepara | mebel jepara | jepara | amirul jepara | jepara products | jepara jepara products - furniture jepara - mebel jepara: jepara culture
selamat datang di blognya anak jepara, di jepara products diterangkan berbagai produk jepara, saya sebagai anak jepara bangga mempublikasikan produk asal kota jepara ini. siliahkan dilihat-lihat produk jepara nya.jepara jepara jepara bisa!!!

translator

>

8.09.2011

Pemkab Jepara Gagas Kampung Portugis


JEPARA – Pemkab Jepara menggagas objek wisata penunjang untuk memaksimalkan keberadaan Benteng Portugis yang terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo atau sekitar 45 km sebelah utara Kota Jepara.

Sesuai namanya, pemerintah akan membangun Kampung Portugis di sekitar sisa-sisa benteng yang masih berdiri saat ini.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara Khoeron Syarifuddin menegaskan, kampung Portugis akan dibangun di kompleks wisata tanpa menghilangkan kondisi asli benteng. Mengingat tujuan utama pembangunan obyek wisata ini adalah penunjang dari benteng tersebut.

Di sekitar benteng akan dibangun rumah, taman, serta bangunan lain yang bernuansa jaman dahulu saat bangsa Portugis masih bermukim di wilayah tersebut. Selain itu, gardu masuk ke aera Benteng Portugis serta akses jalan di sekitar lokasi benteng akan direnovasi.

”Jika bangunan-bangunan tersebut telah berdiri, kita akan dibawa merasakan dan memasuki suatu daerah seperti layaknya masih digunakan Portugis untuk pengamanan, perdagangan, dan militer seperti zaman dahulu,” kata Khoeron Syarifuddin.

Dia menambahkan, untuk pembangunan obyek wisata ini, pihaknya mendapat bantuan dana sebesar Rp9 miliar dari Pemerintah Pusat. Untuk tahap pertama, anggaran dari pusat ini akan dicairkan senilai Rp2,5 miliar.

Sedangkan untuk pelaksanaannya, tahun ini dimulai dari proses desain dan pembangunan fisiknya dilakukan awal 2011 mendatang. Ditargetkan, pada 2015 nanti obyek wisata ini rampung dikerjakan dan bisa dibuka untuk umum.

”Selama ini, Benteng Portugis masih menjadi salah satu primadona wisata rekreasi di Jepara. Sehingga, dengan adanya penambahan Kampung Portugis ini diharapkan bisa mendongkrak jumlah wisata yang berkunjung ke objek wisata tersebut,” terang dia.

Benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Kerajaan Mataram Sultan Agung sekitar abad XVII ini berada di atas bukit batu di tepi laut. Benteng ini dibangun untuk mencegah datangnya tentara Belanda dari Batavia atau Jakarta yang ingin masuk ke Pulau Jawa melalui jalur laut.

Saat itu, Sultan Agung berpikiran bahwa VOC Belanda hanya bisa dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan. Karena Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, maka perlu adanya bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC yaitu bangsa Portugis.

Benteng berhadapan langsung dengan Pulau Mandalika yang memberikan nilai lebih. Sebab, pengunjung tidak hanya sekadar melihat peninggalan bersejarah, melainkan juga bisa menikmati keindahan laut.

Di sekitar benteng banyak ditumbuhi pohon-pohon yang rindang yang sudah berusia ratusan tahun sehingga menambah kesejukan alamnya. Akan tetapi, sampai saat ini pengelolaan obyek wisata tersebut kurang maksimal.
(Sundoyo Hardi/Koran SI/ram)


Sumber : okezone.com 


Hebat, 10 Wanita Akan Bersepeda Jakarta-Jepara


Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar dipastikan akan melepas 10 srikandi Bike To Work (B2W) yang bakal mengayuh sepeda dari Jakarta hingga Jepara, Jawa Tengah.

Pelepasan akan dilakukan pada Rabu 13 April mendatang di kantornya, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Ketua Umum Bike To Work Indonesia Toto Sugito menuturkan, kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April mendatang. “Nanti akan dilepas langsung Ibu Linda di kantornya pada 13 April pukul 07.00 WIB,” ungkap Toto, Senin (11/4/2011).

Dikatakan Toto, digelarnya Srikandi Gowes to Jepara untuk membuktikan bahwa perempuan pun bisa sejajar dengan kaum laki-laki. “Jarak yang ditempuh mereka sekira 600 kilometer lebih,” terangnya.

Dari 10 srikandi tersebut, ada satu anggota dari B2W Bandung yaitu Rini Rismiati. Sejak 2 bulan yang lalu dirinya terus berlatih bersama sembilan Srikandi lainnya di Jakarta.

“Latihannya dua minggu sekali dengan materinya mengatur ritme, stamina jarak jauh, juga dengan membawa beban 10 kilogram karena pada saat perjalanan nanti kita diwajibkan membawa beban masing-masing,” ungkap Rini.

Bahkan mereka pun beberapa kali berlatih dengan rute yang cukup jauh untuk membiasakan. "Rute latihan jarak jauh antara lain Jakarta-Anyer, Jakarta-Bogor, Jakarta-Karawang, dan terakhir Jakarta-Bandung,” beber Toto.

Rini yang selalu bersepeda ke kantor setiap hari mengaku gembira bisa bergabung dalam tim Srikandi Gowes to Jepara ini.

Rini mengungkapkan rute yang dilalui antara lain Purwakarta, Subang, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, dan berakhir di Jepara.

Setibanya di Jepara, para srikandi ini akan membagikan buku bacaan gratis di perpustakaan RA Kartini.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda memberikan dukungan kepada Rini. “Wah hebat bisa bersepeda sejauh itu, kita support ini,” ungkap Ayi.

Ayi pun mengaku salut dengan keputusan Rini yang bergabung dengan peserta lain ke Jepara. “Saya salut dengan semangatnya, kalau saya pasti gempor dengan jarak seperti itu,” ungkap Ayi.


sumber : okezone.com


8.08.2011

Dunia Niki Nasr dan Tangan Perajin Jepara


Niki Nasr, desainer asal Denmark, telah lama mengetahui kualitas karya para perajin dari Jepara, Jawa Tengah. Selama sembilan belas tahun, karya-karyanya yang telah masuk pasar internasional tercipta dari tangan perajin kota ukiran itu.
Niki telah lama berkecimpung dalam pasar furnitur tingkat internasional, sebut saja Italia, Meksiko, Skandinavia, Jerman, Yunani, Spanyol, dan negara-negara lainnya. Niki melanjutkan bisnis produksi furnitur milik keluarganya.
Ketika menjalankan bisnis keluarganya, Niki, seorang sarjana lulusan antropologi sosial, telah mengetahui keunggulan para perajin di Jepara. Ia pun bekerja sama dengan para perajin dari Jepara untuk mengerjakan desain-desainnya yang mendunia. Apa yang membuat Niki begitu mengagumi para perajin dari Jepara ketimbang daerah lain di Indonesia, Bali misalnya?
Menurut Pincky S.R. Sudarman dari Alun-Alun Indonesia, kekaguman Niki akan perajin Jepara karena mereka memiliki tingkat kesabaran luar biasa dalam mengukir. "Mungkin karena kita ini sebenarnya bangsa agraris. Ketika musim tanam belum tiba, nenek moyang kita mengerjakan hal lain seperti mengukir. Lihat, alat panen seperti ani-ani saja diukir dengan indah. Betapa kesabaran dan kehalusannya terlihat. Itu yang menjadi alasan Niki memilih perajin Jepara," katanya.
Kayu yang dipilih untuk desain Niki seperti kayu jati, mahoni, akasia, sungkai, mindi, dan kayu impor dari Perancis, kayu oak. Sementara untuk desain-desain karyanya, Niki terinspirasi desain dari Skandinavia, dengan gaya yang mempunyai napas sederhana, klasik, namun tak terbatas atau tak lekang oleh waktu. "Desain Skandinavia memiliki garis-garis murni yang utuh, jujur, sederhana, tidak terlalu rumit, dan bisa digunakan kapan saja, tak tergantung zaman," ungkap Pincky.
Keunggulan para perajin Jepara yang ditangkap jeli oleh Niki menjadi semacam pengingat bahwa bangsa ini kaya dengan talenta. "Ketika di tangan orang asing hasil kerajinan bisa menjadi indah seperti ini, tentu ini menjadi tantangan bagi desainer Indonesia untuk lebih maju. Jangan mau kalah karena ini adalah kekuatan kita," kata Pincky.
Niki Nasr mengadakan pameran pertamanya di Indonesia, bertajuk "Furnishing Your World by Niki Nasr", di galeri Alun-alun Indonesia Grand Indonesia pada 14 Mei-14 Juni 2011. Ada sekitar 80 karya yang dipamerkan. (Natalia Ririh)

sumber : kompas.com


8.05.2011

Desa Siaga Bencana di Jepara Mulai Dirintis


siaga bencana di jepara

Jepara, CyberNews. Bidang Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jepara mulai merintis pengembangan desa siaga bencana. Tahun ini, desa yang menjadi perhatian adalah yang berada di area Kecamatan Donorojo.
Hal itu disampaikan Kabid PBA Satpol PP Setyanto saat dikonfirmasi, Minggu (10/7). Setyanto menjelaskan, kegiatan itu akan diletakkan di Desa Tulakan dengan mengundang perwakilan seluruh desa se-Kecamatan Donorojo pada 13 dan 14 Juli mendatang.
Dia menjelaskan, peserta yang ikut dalam kegiatan itu sebanyak 100 orang yang terdiri dari delapan desa. "Dalam kegiatan itu yang diundang adalah para kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, karang taruna, pramuka dan bidan. Lokasinya nanti di KPRI Pelita di Desa Tulakan," katanya.
Kegiatan itu, lanjut Setyanto, adalah untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekaligus memberikan pengetahuan untuk melakukan langkah antisipasi jika kembali terjadi bencana di kawasan tersebut. kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat perlu ditingkatkan.
Karena itu, Desa Siaga Bencana dibentuk untuk menggerakkan dan mewujudkan masyarakat yang peduli terhadap bencana. "Dengan pertemuan itu nanti agar antar desa agar saling perhatian tidak justru menjadi tontonan," tuturnya.
Sebagai desa siaga bencana, kata Setyanto, diimbau kepada masyarakat di Kecamatan Donorojo untuk selalu waspada, sehingga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan bisa dilakukan upaya penyelamatan diri.
Menurutnya, lokasi yang rutin terjadi bencana adalah Dukuh Tempur Desa Sumberrejo. "Desa tersebut rutin terjadi banjir karena posisinya yang ada di lembang. Selain itu, ada juga Desa Clering yang tahun lalu terjadi banjir cukup benjar. Kalau yang di Clering tidak selalu terjadi," jelasnya.
Dia menjelaskan, kegiatan itu merupakan dukungan dari Badan Penanggulangan Becana Alam Daerah (BPBD) Jateng. "Kami selaku tuan rumah menyiapkan area yang memang membutuhkan. Materi yang diberikan seputar pertolongan pertama gawat darurat. Kalau soal penanganan yang lain saya belum bisa menjelaskan," ujarnya.
( Akhmad Efendi / CN31 / JBSM )

dikutip dari: suaramerdeka.com


Jepara Finalis Daerah Hijau 2011


keindahan jepara

Jepara, CyberNews. Kabupaten Jepara menjadi satu dari 10 kabuoaten/kota di Indonesia yang lolos sebagai finalis  penerima  Indonesia Green Region Award (IGRA) 2011. Pekan ini, Bupati Jepara Hendro Martojo dijadwalkan melakukan presentasi di depan tim juri di Jakarta.
Hal ini diungkapkan Kepala Bagian Humas Setda Jepara Hadi Priyanto, Senin (13/6) pagi. IGRA adalah penghargaan untuk daerah pengelola lingkungan hidup terbaik di Indonesia yang dilaksanakan Kantor Berita Radio (KBR) 68 H Jakarta dan Majalah Swasembada Jakarta. "Tahun lalu penghargaan IGRA diberikan kepada pemerintah provinsi, dan ini akan diberikan kepada kabupaten/kota," kata Hadi Priyanto.
Dia menjelaskan dari 10 kabupaten/kota yang menjadi finalis IGRA 2011, empat daerah berasal dari Pulau Jawa, yakni Kabupaten Jepara, Kota Yogyakarta (DIY), Kota Surabaya (Jawa Timur), dan Kabupaten Kuningan (Jawa Barat).
Enam daerah lain dari luar Jawa, yakni Kota  Banda Aceh (NAD), Kota  Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Kabupaten Berau (Kalimantan Timur), Kota Denpasar (Bali), Kabupaten Gorontalo (Gorontalo), dan Kota  Payakumbuh (Sumatera Barat).
“Mereka diseleksi para panelis sejak awal tahun 2011. Dari penilaian awal, terpilih 54 landidat, lalu diseleksi lagi tinggal 10 daerah yang berhak menjadi finalis calon penerima IGRA. Sebelum para finalis melakukan presentasi, tim juri juga telah melakukan verifikasi lapangan,” papar Hadi Priyanto.
Presentasi finalis IGRA akan dilakukan di depan tim juri yang merupakan para ahli lingkungan hidup, di antaranya mantan Menteri Lingkungan Hidup RI Emil Salim. Kabupaten Jepara, menurut Hadi, optimistis menatap tahap akhir penilaian IGRA 2011 karena pembangunan lingkungan hidup di Jepara termasuk yang terbaik di Indonesia.
Jepara sangat sering menerima penghargaan di bidang lingkungan hidup dan juga ukiran khas jepara, antara lain Piala Adipura delapan kali, dan tujuh di antaranya diraih secara beruntun sejak 2005 hingga 2011, penghargaan kabupaten sehat Swasti Saba Padapa 2010, Juara III Kabupaten Peduli Hutan (2010), dan Penghargaan Raksaniyata dari Menteri Lingkungan Hidup RI 2011.
( Muhammadun Sanomae / CN26 / JBSM )

dikutip dari : suaramerdeka.com


Jepara Raih Adipura Ketujuh


Adipura kota jepara yg ke 7

Jepara, CyberNews. Jepara kembali mendapatkan penghargaan Adipura tahun ini. Penghargaan Adipura untuk kota terbersih se-Indonesia dalam kategori kota sedang diraih Jepara tujuh kali secara beruntun sejak tahun 2005.
''Penyerahan Piala Adipura akan dilakukan besok (Selasa, (7/6)) di Istana Negara Jakarta. Bupati Jepara Drs Hendro Martojo MM dijadwalkan akan menerima langsung piala itu dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono,'' kata Kepala Bagian Humas Setda Jepara Drs Hadi Priyanto kepada wartawan Senin (6/6).
Lebih lanjut, Hadi menjelaskan tahun ini terdapat 17 kota sedang di Indonesia yang mendapatkan Adipura. Dari daftar itu, Jepara menempati urutan teratas dari seluruh kota sedang peraih Adipura. Di Jawa Tengah, kota sedang yang juga meraih Adipura adalah Pekalongan, sedangkan dalam kategori kita kecil, Jawa Tengah menempatkan 6 dari 42 kabupaten/kota se Indonesia yang juga meraih Adipura.
''Diraihnya Adipura ketujuh secara beruntun serta fakta Jepara menempati peringat teratas tidak mengherankan. Kabupaten yang terletak paling utara Pulau Jawa sejak lama dikenal bersih dan hijau. Kekaguman atas kota Jepara beberapa tokoh nasional saat berkunjung ke Jepara,'' urai Hadi.
Ungkapan yang sama juga disampaikan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik pada Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Freddy H Tulung. ''Semula saya membayangkan Jepara adalah kota pantai yang kotor. Tapi saya akui tak banyak kota yang sebersih Jepara,'' ujarnya.
Prestasi tersebut, kata Hadi, membuat Pemkab Jepara makin termotivasi agar kebersihan benar-benar menjadi budaya masyarakat sejak kecil. Untuk itu, kebersihan direncanakan masuk sebagai bagian pelajaran muatan lokal (Mulok) yang akan diajarkan di satuan pendidikan yang ada di Jepara.
''Ini memang sangat penting karena budaya bersih yang tertanam sejak kecil akan bertimbas besar pada perbaikan dan kesehatan lingkungan. Itu bisa dilihat dari prestasi SD Panggang 4 Jepara yang sudah tiga kali meraih penghargaan Adiwiyata sehingga sejak tahun lalu berhak menerima Penghargaan Adiwiyata mandiri. Adiwiyata juga sangat penting sebagai bagian dari membudayakan kebersihan pada anak-anak sejak kecil," kata Hadi.
Sementara itu, tutur Hadi, untuk mengapresiasi peran petugas lapangan sebagai salah satu lini depan penjaga kebersihan, Bupati Jepara berencana memberikan tali asih kepada mereka mereka masing-masing Rp 150 ribu.
Sebanyak 270 penjaga kebersihan dijadwalkan menerima tali asih ini usai dilakukan kirab Adipura dari perbatasan Jepara-Demak di Desa Gedangan Kecamatan Welahan hingga Pendopo Kabupaten Jepara.
( Akhmad Efendi / CN34 / JBSM )

dikutip dari: suaramerdeka.com


Wisata Bahari Masih Jadi Andalan Jepara


wisata bahari jepara

Jepara, CyberNews. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara melihat wisata bahari masih menjadi tulang punggung perkembangan bisnis pariwisata di Bumi Kartini tahun ini.
Keberadaan Pantai Tirta Samudera Bandengan, Pantai Kartini, Pantai Benteng Protugis Keling, dan Pulau Karimunjawa akan dimaksimalkan untuk menarik wisatawan. Hal itu disampaikan Chaeron Syarifudin, kepala Disparbud Jepara kemarin.
Menurutnya, wisata bahari menempati posisi pertama dalam menyumbang pendapatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara. Setelah itu adalah wisata belanja berupa produk-produk mebel ukir jepara, monel, dan rotan Jepara. Terakhir berupa wisata religi di makam Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat.
"Memang kondisinya demikian. Itu terlihat dari target pendapatan di beberapa pantai Jepara juga besar," kata Chaeron.
Dia lantas merinci pendapatan di Pantai Kartini sebesar Rp 485 juta, Pantai Bandengan Rp 512 juta, dan Pulau Panjang Rp 11,5 juta. Sedangkan di Pulau Karimunjawa ada wisma wisata yang ditarget memberikan pemasukan sebesar Rp 30 juta dan kapal kaca sebesar Rp 11 juta.
"Sedangkan untuk di Pantai Kartini juga masih ada potensi baru berupa Kura-kura Ocean Park (KOP) yang rencananya akan dilaunching pada Februari nanti dengan target awal sebesar Rp 100 juta," urai Chaeron.
Disinggung soal pendapatan di lokasi yang lain, Chaeron menjelaskan tidak terlalu besar. Seperti di Museum Kartini, dipatok target sebesar Rp 5 juta.
"Sedangkan untuk retribusi kebersihan sebesar Rp 9,5 juta. Kami akan berupaya maksimal agar pendapatan di berbagai lokasi wisata yang ada bisa tercapai," terangnya.
Dukungan
Namun, Chaeron menjelaskan upaya tersebut harus ditopang dengan kondisi alam yang baik. Ketika situasi seperti meletusnya Gunung Merapi, lanjutnya masih terjadi tantangan untuk mencapai target akan semakin berat.
"Selain itu, berkembangnya wisata Jepara juga butuh dukungan perkembangan ekonomi lokal. Ketika perekonomian semakin baik tentu kunjungan wisata juga ikut terkena imbasnya, begitupula sebaliknya," tuturnya.
Disinggung mengenai keberadaan pihak swasta yang membuat waterboom apakah akan mengurangi pendapatan Disparbud, Chaeron menilai tidak karena sudah ada perbedaan wilayah. Dia melihat kondisi wisata buatan dan alami tetap ada perbedaan sehingga tidak berpengaruh banyak.
"Kalau yang waterboom ini kondisinya lebih spesifik, berbeda dengan wisata bahari yang kami kelola. Karena itu, saya pikir tidak ada masalah".
(Akhmad Effendi/CN19)


dikutip dari :suaramerdeka.com


Kendal dan Jepara Juara Grup



team sepak takraw jepara
Jepara, CyberNews. Tim sepak takraw pelajar Kendal dan Jepara A meraih tiket ke semifinal laga invitasi sepak takraw pantai setelah menjuarai grup masing-masing di lapangan pantai Bandengan Kabupaten Jepara, kemarin. Laga itu digelar Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi) Jateng.
Dari delapan kabuoaten/kota yang diundang, hanya Wonogiri yang absen. Namun ketiadaan Wonogiri kemarin digantikan Tim Jepara B yang akhirnya tersingkir karena sebagian diperkuat anak-anak usia sekolah dasar, sedangkan lawan-lawannya dari SLTP dan SLTA.
Tim lain yang tersingkir adalah PPLP Salatiga, Demak, dan Tegal, sedangkan yang lolos ke semi final selain Jepara A dan Kendal, adalah Banyumas dan Brebes. Kamis pagi mereka akan bertanding untuk memperebutkan partai final yang akan digelar siang.
Seksi bidang pertandingan Mursidi menyatakan keempat tim yang masuk semi final dipastikan menempati posisi juara I, II, dan III. "Khusus juara III merupakan juara bersama bagi yang gagal ke final," ujarnya.
Laga invitasi tersebut disaksikan Wakil Ketua Umum KONI Jateng Sukahar, perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga dan Bapopsi Jateng, Ketua KONI Jepara Ali Irfan Mukhtar, Kepala Disdikpora Jepara Moh Zahid, serta ketua Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PSTI) Jepara Sujarot.
Delapan tim itu dibagi menjadi dua grup. Tim Jepara A, Tegal, Brebes dan Demak masuk Grup A, sedangkan Jepara B, Kendal, Banyumas dan PPLP Salatiga di Grup B. Tiap tim di masing-masing grup tampil tiga kali. Tim Jepara A ke semi final setelah mengalahkan Demak, Tegal dan Brebes masing-masing dengan skor 2-0.
Tim Brebes, walau kalah sekali dari Jepara A, ke semi final karena menang dua kali, yakni mengatasi Tegal 2-1 dan Demak dengan 2-0. Sementara itu Kendal menjadi juara grup B dan ke semifinal setelah mengalahkan Jepara B 2-0, Banyumas dan PPLP Salatiga masing-masing dengan skor 2-1.
Tim Banyumas juga melaju. Sebelum kalah dari Kendal, Banyumas memetik kemenangan di laga pembuka atas PPLP Salatiga, dan di akhir penyisihan menaklukkan Tim Jepara B.
(Muhammadun Sanomae/CN26) 


dikutip dari: suaramerdeka.com


4.25.2011

Pantai Teluk Awur Jepara



Salah satu pantai di kabupaten Jepara yang cukup indah dan menarik untuk di kunjungi adalah Pantai Teluk Awur. Disebut Teluk memang kondisi lautnya yang menjorok ke daratan, sehingga panjang pantai kalau dilihat tidak lurus memanjang namun mendekati bentuk setengah elips.
Dalam situs pemerintah kabupaten Jepara pantai Teluk Awur ini belum masuk pada daerah tujuan wisata kabupaten Jepara, namun demikian jika dilihat pantai ini tidak kalah menariknya dengan pantai Kartini Jepara ataupun pantai Tirto Samudra Bandengan.
Jika hari Minggu atau libur pantai ini cukup ramai dikunjungi oleh pelancong baik dari sekitar Jepara sendiri, ada pula warga luar kota Jepara yang juga mampir mencoba melihat keindahan pantai yang masih alami ini. Dikatakan alami pantai ini sama sekali belum terpoles oleh unsur pariwisata, tidak ada tempat parkir. Karcis tanda masuk maupun rumah-rumahan tempat untuk berteduh. Namun demikian pengunjung tidak akan kepanasan karena sepanjang pantai ini penuh dengan tanaman hijau yang dapat digunakan untuk berteduh. Wisatawan yang datang cukup dengan menggelar tikar dibawah rimbunnya tanaman sembari menikmati semilirnya angin pantai , indahnya ombak yang bergulung tak lupa menikmati bekal dari rumah sungguh nikmat rasanya.
Bukan itu saja sebagian pantai ini juga rimbun dengan tanaman mangrove yang ditanam oleh kamunitas pecinta alam dan pantai sebagai pilot proyek penanggulangan abrasi pantai yang saat ini telah menggerus pantai di Jepara khususnya bagian selatan. Mangrove ini tumbuh cukup rimbun sehingga cukup nyaman untuk tempat berteduh, Namun sayang saking rimbunnya kadang-kadang tempat ini digunakan pacaran para muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.
Berenang sepuasnya
Untuk fasilitas pendukung meskipun cukup sederhana warga sekitar telah menyediakannya untuk kenyamanan para pengunjung. Tempat parkir misalnya untuk mobil tidak masalah disana tenpatnya cukup luas tinggal memilih ditempat mana kita mau parkir, untuk kendaraan roda dua bisa langsung diparkir di bibir pantai sehingga jika ramai Sepeda motor kelihatan berjajar rapi.
Untuk yang mempunyai hobi berenang Pantai Teluk awur kondisi airnya cukup bersih karena jauh dari lalu lalangnya perahu dan kapal, sehingga aman jika digunakan untuk mandi dan berenang. Bagi yang tidak bisa berenang warga sekitar telah menyediakan ban-ban mobil yang besar sehingga bisa digunakan untuk berenang dipinggir pantai, biaya sewanyapun relatif murah sekali pakai Rp 1.000-Rp 2.000. Begitu pula tempat mandi bilas, warga sekitar juga telah menyediakannya meskipun kondisinya sederhana namun bisa digunakan untuk membersihkan badan dari asinnya air laut.
Sehingga sayang jika kita telah sampai di pantai ini tidak nyebur ke laut, jadi bila pembaca mencoba datang jangan lupa membawa baju renang dan peralatan untuk mandi bila tidak ingin menyesal jika pulang.
Yang mempunyai hobi memancing pengunjung juga bisa menuntaskan kesenangannya di pantai ini. Selain ikannya cukup lumayan, juga kita bisa menyewa perahu jika ingin ke tengah laut.
Soal makanan, bagi pengunjung yang tidak membawa bekal warga menyediakan berbagai macam menu yang bisa dipilih, dari makanan kecil, minuman ringan sampai dengan nasi beserta lauk pauknya. Harganyapun relatif murah, sehingga bagi wisatawan yang kantongnya pas-pasan tidak ada halangan untuk mengunjungi pantai ini.
Khusus untuk Liburan hari lebaran, tempat ini juga menyediakan hiburan yang menarik misalnya pentas music atau kesenian lainnya. Oleh karenanya untuk liburan lebaran nanti tidak ada ruginya bila Anda menyempatkan mengunjungi obyek wisata pantai yang murah meriah ini. Selamat mencoba.


11.30.2010

Sndratari Emprak


 Emprak adalah :
Jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berakar di masyarakat yang merupakan perpaduan dari music ,gerak (tari ),dan peran (lakon) dengan mengangkat sebuah tema berupa cerita tentang kehidupan dengan maksud memberikan pesan moral kepada masyarakat,
I.Emprak pada jaman dulu :
  • Jumlah pemain 9-15 orang semuanya laki-laki
  • Bila ada peran wanita,maka sebagian pemain berdadan ala wanita
  • Alat music (instrument) pengiring berupa terbang (rebana) besar ,terbang kecil, dan kentongan
  • Pakaian (kostum ) pemain :kaos ,sarung ,dan koplak (topi ) bayi
  • Rias wajah :ala kadarnya yang penting mennunjukkan kesan lucu / kocak
  • Waktu pementasan malam hari dengan durasi semalam suntuk
  • Tempat pentas di antai dengan gelaran tikar (lesehan )
II.Emprak di masa sekarang :
  • Jumlah pemain minimal 5 orang & maksimal tidak terbatas terdiri perempuan dan laki-laki
  • Laki-laki yang berdandan ala wanita terkadang masih ada ( tergantung permintaan )
  • Alat music (instrument) pengiring berupa terbang (rebana) besar ,terbang kecil, dan kentongan ditambah alat musik modern seperti orgen, gitar, dan suling
  • Pakaian (kostum ) pemain :Rompi, dan celana panjang/sarung
  • Rias wajah :cenderung bagus tapi tetap mennunjukkan kesan lucu / kocak
  • Waktu pementasan malam hari dengan durasi semalam suntuk atau disesuaikan dengan permintaan (1-2 jam)
  • Tempat pentas di lantai atau dipanggung
III. Tema Cerita
Tema diambil dari kejadian di masyarakat,seperti : kawin lari,kawin paksa, perselisihan rumah tangga, dllyang diakhiri dengan pesan-pesan dan hikmah dari cerita yang dipentaskan. Dalam menyuguhkan suatu cerita juga diselingi dengan lawak/banyolan, tuntunan-tuntunan, penerangan (tentang pertaniaan ,agama, norma, politik, dll )
IV. Pola permainan
  • Musik pembuka
  • Tarian khas emprak
  • Lawak /banyolan
  • Lagu-lagu
  • Cerita
  • Penutup
V. Kelompok yang masih Exis
Saat ini diJepara terdapat 5(lima)kelompok Emprak yang masih eksis dan aktif yang terdapat di kecamatan Mlonggo,kecamatan Bangsri, dan kecamatan Keling gengan mayoritas pemainnya berusia tua
VI.Pentas diluar wilayah Jepara :
Mengikuti festival kesenian, mengisi acara televisi (TVRI Semarang ), PRPP, Maerokoco,TMII, dll

Sumber : http://www.ticjepara.com/2008/11/emprak.html


Pagelaran Ketoprak Spektakuler


Ketoprak adalah kesenian yang cukup di kenal di Jawa Tengah termasuk Jepara. Biasanya pagelaran ini mengangkat cerita tentang kehidupan kerajaan di tanah Jawa pada masa lampau.
Di Jepara, Pagelaran ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan segala hal (termasuk sejarah) yang berkaitan dengan Jepara kepada masyarakat.
Beberapa kali pernah ditampilkan di Taman Mini Indonesia Indah dengan label "Ketoprak Modern". Ada misi lain yang berusaha dimunculkan dengan tujuan mendekatkan kalangan birokrat dengan masyarakat, sehingga tampil "Ketoprak Spektakuler" yang pemain pendukungnya adalah Bupati Jepara beserta Muspida, Pejabat Instansi Pemerintah, Tokoh Masyarakat, Pengusaha, Kalangan Pendidik, danSeniman.
 Tahun 2009 bertempat di Alun-Alun Jepara mengangkat cerita "Sungging Badarduwung" dan yang terbaru dilaksanakan hari Sabtu (malam Minggu) tanggal 23 Oktober 2010 dengan tema "Laskar Kalinyamat". Dengan jumlah pemain yang mencapai 250 orang, layak dinobatkan sebagai pemecah Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori pentas ketoprak dengan jumlah pemain terbanyak.

 Sumber : http://infowisata-jepara.blogspot.com/2010/10/pagelaran-ketoprak-spektakuler.html









Kejuaraan Pencak Silat di Pantai Bandengan




Invitasi Pencak Silat Pantai Ke-2 memperebutkan Piala Menpora (Menpora Cup) dilaksanakan di OW. Pantai Bandengan Jepara selama 3 hari tanggal 19 s/d 21 November 2010.
Kegiatan diikuti 8 kontingen dari 5 propinsi :
Jawa Tengah : 2 kontingen
Jawa Barat : 2 kontingen
Kalimanatan Timur : 2 kontingen
DKI Jakarta : 1 kontingen
DI Yogyakarta : 1 kontingen

Babak penyisihan dilaksanakan tanggal 19 s/d 20 November 2010. Babak final dilaksanakan Minggu, 21 November 2010 mulai pukul 08.00 WIB - 12.00 WIB dilanjutkan pukul 15.30 WIB sampai selesai (malam hari). 

Sumber: http://infowisata-jepara.blogspot.com/2010/11/kejuaraan-pencak-silat-di-pantai.html


kebudayaan jepara


Oleh Jamal D. Rahman
Ontologi kebudayaan mengandaikan adanya tiga lapis kebudayaan, yaitu ideofakt, sosiofakt, dan artefakt. Ideofakt adalah ide dan nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat, yang kemudian dikonkretkan secara sosial menjadi perilaku, konvensi, dan tradisi sebagai sosiofakt, dan selanjutnya dimaterialisasikan dalam artefakt sebagai produk material kebudayaan
 Sementara itu, ada 7 elemen kebudayaan yang masing-masing mengandung ideofakt, sosiofakt, dan artifakt tersebut. Yaitu, bahasa, religi, seni, pengetahuan, organisasi sosial, kekerabatan, dan ekonomi. Semuanya itu dapat digambarkan secara lebih jelas sebagai lingkaran konsentris, dimana ideofakt merupakan sisi terdalam dan artefakt merupakan sisi terluar. Artefakt inilah yang kemudian disebuat kebudayaan materi (material culture), sementara dasar-dasar teoritis dan prinsip-prinsip epistemologisnya disebut materialisme budaya (cultural materialism), yang kemudian menjadi paradigma untuk penelitian antropologi dan ilmu-ilmu terkait.

Kebudayaan materi meliputi teks tertulis dan benda-benda yang memiliki makna terutama bagi komunitas pencipta dan pemiliknya. Oleh karena itu, menurut Ian Hodder, dalam mengkaji kebudayaan materi, paling tidak sampai batas tertentu dasar-dasar teoritis signifikasi teks tertulis (bahasa)
dapat diterapkan pada benda-benda budaya lainnya. Bahwa bahasa bisa bekerja atau berfungsi secara sosial oleh karena adanya sistem bahasa yang diterima oleh suatu masyarakat, maka diandaikan bahwa kebudayaan materi pun memiliki makna atau fungsi sosial dalam batas-batas sistem simbolik yang dianut oleh suatu masyarakat. Sebagaimana bahasa merepresenasikan sesuatu, kebudayaan materi pun diandaikan merepresentasikan sesuatu pula. Demikianlah misalnya kata masjid mengandung arti sebagai tempat ibadah umat Islam dengan seluruh makna simbolik dan relijiusnya, dan bangunan masjid sebagai satu bentuk kebudayaan materi mengkomunikasikan sekaligus merepresentasikan makna simbolik, sakralitas, spiritualitas, dan fungsi sosio-relijius umat Islam.
Dalam kaitan ini maka memahami kebudayaan materi adalah memahami dan menafsirkan teks. Analog dengan bahasa, kebudayaan materi difahami dan ditafsirkan dalam konteks tertentu sesuai dengan kode budaya dan konvensi sosial yang berlaku. Mengkaji kebudayaan materi adalah menafsirkan kebudayaan materi itu sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya. Sebagaimana hubungan bahasa dan arti yang diacunya bersifat manasuka (arbitrer), maka hubungan kebudayaan materi dengan arti yang diacunya pun bersifat manasuka. Hubungan masjid —baik sebagai bahasa maupun kebudayaan materi (bangunan fisik)— dengan tempat ibadah umat Islam jelas bersifat atbitrer. Dalam pada itu, sebagaimana makna dalam bahasa, makna yang dikandung oleh jalinan internal struktur bangunan sebuah masjid membentuk arti sintagmatik, misalnya bahwa masjid itu mengekspresikan sakralitas dan spiritualitas Islam. Sementara makna yang terkandung dalam hubungan asosiatif antara masjid dengan dunia di luar masjid itu sendiri membentuk arti paradigmatik, misalnya bahwa arsitektur sebuah masjid diasosiasikan dengan negara tertentu.
Namun demikian, kebudayaan materi bagaimanapun jauh lebih kompleks tinimbang, dan tidak persis sama dengan bahasa. Perbedaan mendasar antara bahasa dan kebudayaan materi lainnya dalam konteks signifikasinya sebagai sistem simbol antara lain terletak dalam kenyataan bahwa, berbeda dengan bahasa, kebudayaan materi tidak selalu mengandung arti (meaning). Kebudayaan materi diciptakan seringkali untuk pertimbangan, fungsi, atau kebutuhan praktis. Dengan kata lain, sementara bahasa selalu mengandung kepentingan komunikasi dan representasi, dalam banyak hal kepentingan komunikasi dan representasi ini justru seringkali absen dalam kebudayaan materi. Orang memakai topi, misalnya, tidak selalu dalam rangka mengkomunikasikan dan merepresentasikan sesuatu, melainkan seringkali karena fungsi praktisnya dalam pengalaman individual orang itu sendiri.
Pada tataran itulah, dalam rangka mengembangkan teori kebudayaan materi, Ian Hodder segera menegaskan batas-batas bahasa sebagai kerangka untuk memahami kebudayaan materi. Perangkat-perangkat teoritis linguistik dengan demikian tidak selalu memadai untuk memahami kebudayaan materi.
Maka itu, Hodder mengajukan pentingnya membedakan dua cara dalam mengkaji kebudayaan materi dalam hubungannya dengan makna simbolik yang dikandungnya di balik kegunaan praktisnya. Yang pertama melalui jalan representasi; yang kedua melalui jalan praktis atau interkoneksi antara yang material dan nonmaterial. Jalan pertama berlaku untuk kebudayaan materi yang cara kerjanya sama dengan bahasa, seperti masjid yang telah dicontohkan di atas. Jalan kedua berlaku untuk kebudayaan materi yang cara kerjanya berbeda dengan bahasa, yaitu produk dari dunia praktis yang tidak mengorganisasi kode representasional tertentu, melainkan semata-mata mengorganisasi aktivitas dimana emosi, kesenangan, moral, dan hubungan sosial ambil bagian dalam kebiasaan sosial yang telah terterima (taken-for-granted).
Sebagai contoh, kalau saya orang Jepara, saya akan membangun rumah dengan menggunakan ukiran ala Jepara yang halus dan rumit itu. Dalam hal ini saya tidak bermaksud merepresentasikan sesuatu, melainkan semata karena kedekatan emosional saya dengan ukiran Jepara sekaligus mengikuti tradisi yang sudah berterima. Dalam konteks ini, rumah saya adalah dunia praktis (material) yang berhubungan dengan dunia nonmaterial, yaitu struktur sosial yang mendorong kesadaran saya untuk membangun rumah ala Jepara. Tetapi, rumah saya dengan semua ukirannya tidak saya maksudkan sebagai mengacu pada makna sebagaimana secara sosial dan tradisional dikandung struktur rumah ala Jepara, melainkan semata karena kesenangan atau motif emosional pribadi belaka —betapapun rumah tersebut pada akhirnya mengandung arti sosial dan simbolik.
Di sini terjadi dialektika antara struktur dan dunia praktis: struktur —yaitu hubungan-hubungan sosial saya— mendorong saya membangun rumah ala Jepara, tetapi saya membangun rumah ala Jepara tidak atas dasar makna simbolik dan sosial yang dikandung rumah Jepara itu sendiri, melainkan atas dasar pertimbangan dan kesenangan pribadi. Di satu sisi saya berada di dalam struktur, tetapi di sisi lain —yaitu pada tataran dunia praktis— saya keluar dari struktur. Karena dialektika antara struktur dan dunia praktis inilah, kata Hodder, tidak mudah menyusun kamus dan grammar kebanyakan kebudayaan materi.
Sampai di sini kita memasuki pertanyaan penting: di antara struktur dan dunia praktis, manakah yang lebih menentukan satu sama lain? Dirumuskan dalam cara lain, apakah ideokraft menentukan artefakt? Dengan menggunakan bahasa Marxian, apakah suprastruktur menentukan infrastruktur, ataukah sebaliknya? Perspektif materialisme budaya jelas: infrastruktur menentukan suprastruktur. Kembali ke contoh rumah ala Jepara tadi, dunia praktislah —yaitu tradisi rumah Jepara dengan segala ukirannya yang halus dan rumit— yang mendorong saya untuk membangun rumah ala rumah Jepara itu sendiri. Di sini jelas artefakt menentukan ideofakt, infrastruktur menentukan suprastruktur.
Namun demikian, prinsip-prinsip epistemologis materialisme budaya tentu saja tidak sesederhana itu. Mengikuti Marvin Harris, pertama-tama hal ini berkaitan dengan definisi tentang kebudayaan. Dalam materialisme budaya, kebudayaan tidak lagi didefinisikan secara sempit sebagai fenomena mental dan emik, dunia ide yang bisa diakses hanya melalui wacana yang saling berinteraksi antara kehidupkan etnografer dan kehidupan masyarakat yang diteliti. Kebudayaan, dalam pandangan materialisme budaya, merujuk pada repertoar-repertoar kegiatan dan pemikiran yang terbentuk secara sosial dan diasosiasikan dengan kelompok sosial atau populasi tertentu. Dengan demikian, elemen-elemen kebudayaan dibentuk atau diabstraksikan dari batuan dasar pemikiran dan perilaku individu yang berubah-ubah.
Sejurus dengan ini, maka dalam pandangan materialisme budaya, generalisasi tidak bisa digunakan. Partikularitas budaya yang tidak terbatas membuat generalisasi dalam kajian budaya jadi mustahil. Satu kesimpulan umum tentang suatu kebudayaan tidak selalu berlaku pada kebudayaan lain karena perbedaan-perbedaan mendasar antara keduanya dan perubahan-perubahan yang kadang berlangsung cepat di dalamnya. Dan lagi, berapa banyak bukti kebudayaan yang diperlukan untuk menggeneralisasi sebuah kesimpulan? Lima? Lima puluh? Tak ada kepastian dan kejelasan. Itu sebabnya, tak akan ada hukum budaya yang bersifat pasti dan tetap, sebagaimana hukum alam dalam ilmu fisika misalnya.
Dalam usaha mengembangkan teori materialisme budaya, Marvin Harris mengemukakan adanya infrastruktur, struktur, dan suprastruktur dalam sistem sosio-budaya berikut hubungan kompleks antara ketiganya. Materialisme budaya jelas menempatkan infrastruktur sebagai faktor determinatif dalam hubungannya dengan struktur dan suprastruktur. Tetapi Marvin menolak jika dengan pandangan ini materialisme budaya dipandang sebagai menggunakan prinsip teleologis, yaitu prinsip yang menafikan proses yang bersifat acak dalam evolusi budaya, atau bahwa evolusi budaya hanya ditentukan searah oleh infrastruktur sebagai satu-satunya faktor. Marvin Harris menegaskan, jika prinsip materialisme budaya ini akan disebut teleologis, itu hanya bisa diterima sejauh dalam pengertian terbatas dari evolusionisme Darwinian. Sebagaimana dalam biologi, kata Harris, dalam kebudayaan pun berlangsung inovasi dan seleksi (menerima atau menolak bentuk kebudayaan tertentu).
Dengan demikian, dalam pandangan materialisme budaya, infrastruktur, struktur, dan suprastruktur tidaklah sejajar dalam sistem sosio-budaya. Infrastruktur jelas lebih determinatif. Tetapi, ini tidak berarti bahwa infrastruktur bisa bekerja tanpa struktur dan suprastruktur. Mengatakan bahwa struktur dan suprastruktur tergantung pada infrastruktur tidak berarti mengatakan bahwa dalam proses kesinambungan dan perubahan kebudayaan, seleksi budaya hanya berlangsung dari infrastruktur ke suprastruktur. Sebaliknya, struktur dan suprastruktur secara aktif dapat memberikan kontribusi pada kesinambungan dan perubahan dalam infrastruktur sistem kebudayaan. Hanya saja, hal itu bisa berlangsung dalam batas-batas dan kemungkinan-kemungkinan yang inheren dalam lingkungan demografi, teknologi, ekonomi, dan lingkungan kebudayaan itu sendiri.
Munculnya gerakan feminisme dapat dijadikan contoh. Pandangan idealistik akan mengatakan bahwa feminisme digerakkan oleh suprastrutkur, yaitu kesadaran tentang adanya ketidakadilan dan ketimpangan gender dalam kebudayaan. Materialisme budaya membantah pandangan idealistik ini: feminisme justru digerakkan oleh infrastruktur, yaitu oleh produksi dan reproduksi secara massif gagasan feminisme itu sendiri lewat teknologi percetakan dan teknologi informasi (radio, televisi, internet, dll.). Perkembangan teknologi telah memungkinkan pelibatgandaan dan pengerasan suara feminisme secara massif ke seluruh penjuru, melampau batas-batas ruang dan waktu sebelumnya. Dengan cara itu, sosialisasi pandangan tentang ketidakadilan dan ketimpangan gender dimungkinkan, sehingga muncullah gagasan dan gerakan feminisme. Namun demikian, adalah jelas bahwa gagasan dan gerakan feminisme akhirnya memberikan umpan balik pada transformasi infrastruktural. Munculnya organisasi-organisasi sosial yang mendedikasikan dirinya pada perjuangan feminisme, berikut jaringan sosial dan produk (aktivitas) yang dihasilkannya, adalah contohnya yang nyata.
Dengan demikian, meskipun menempatkan infrastruktur sebagai faktor determinatif, materialisme budaya memandang bahwa hubungan determinatif antara infrastruktur, struktur, dan suprastrutkur sesungguhnya bersifat dialektis. Pola hubungan itu tidak searah, melainkan dua arah dan bahkan saling tergantung satu sama lain. Dengan dialektika hubungan ini, jelaslah bahwa materialisme budaya tidak menafikan peranan struktur dan suprastruktur dalam menjaga kesinambungan, menggerakkan perubahan, dan mewujudkan transformasi kebudayaan.

Sumber : http://ari-keindahankotajepara.blogspot.com/2009/03/kebudayaan-jepara.html


 

jepara products - furniture jepara - mebel jepara Copyright © 2010 jepara products by amirul jepara